Berita

Hilang Saat Melaut, Pria Maluku Utara Ini Kembali Setelah 26 Hari

47
×

Hilang Saat Melaut, Pria Maluku Utara Ini Kembali Setelah 26 Hari

Sebarkan artikel ini
[foto. Instagram-voktis.id]
Example 468x60

Siarmalut – Sempat diduga meninggal dunia setelah hilang selama berminggu-minggu, Esau Sidemo (57) justru ditemukan dalam kondisi selamat setelah 26 hari terombang-ambing di Samudera Pasifik. Warga Pulau Batang Dua, Ternate, itu kini telah kembali ke Tanah Air dan berkumpul bersama keluarganya.

Esau sebelumnya dilaporkan hilang setelah pergi melaut untuk memancing pada 6 Juli 2026. Perahu yang digunakannya mengalami kerusakan hingga terbawa arus semakin jauh dari daratan.

Selama berada di tengah laut, Esau bertahan hidup dalam kondisi serba terbatas. Ia tidak membawa ponsel maupun persediaan makanan dan hanya memiliki sekitar satu liter air mineral.

Untuk bertahan hidup, Esau menangkap ikan dan burung yang ditemuinya di tengah laut. Ia juga memanfaatkan air hujan sebagai sumber air minum selama terombang-ambing di lautan.

Keluarga yang tidak mendapatkan kabar kemudian melaporkan hilangnya Esau kepada kepolisian dan pemerintah setempat. Upaya pencarian dilakukan, tetapi keberadaannya tidak kunjung ditemukan.

Hingga akhir Juli, keluarga bahkan sempat pasrah dan menduga Esau telah meninggal dunia karena tidak ada kabar selama berminggu-minggu.

Harapan itu kembali muncul pada 1 Agustus 2026. Setelah 26 hari berada di laut, Esau ditemukan oleh awak kapal LNG Endeavour, kapal pengangkut gas alam cair berbendera Prancis yang sedang berlayar dari Australia menuju China.

Proses penyelamatan berlangsung dramatis. Saat kapal mendekati perahu Esau, ia melompat ke laut untuk mendekati kapal. Awak LNG Endeavour kemudian melemparkan pelampung yang berhasil diraih Esau sebelum akhirnya dievakuasi ke atas kapal.

Pemulangan Esau ke Indonesia dilakukan melalui koordinasi Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Shanghai dengan pihak Imigrasi China serta awak kapal LNG Endeavour.

Konsul Muda Protokol dan Konsuler KJRI Shanghai Batara Yonathan mengatakan, pihaknya menerima laporan mengenai keberadaan Esau dari Indonesia maupun kapal yang menemukannya.

“Kami mendapat laporan baik dari Indonesia maupun dari kapal yang menemukan Pak Esau, kemudian berkoordinasi dengan pihak Imigrasi China untuk proses administrasi dan kepulangannya ke Tanah Air,” kata Batara saat dihubungi ANTARA di Beijing, Kamis.

Sebelum kejadian tersebut, Esau diketahui biasa pergi memancing menggunakan perahu milik saudaranya.

Ia umumnya melaut sejauh 2 hingga 3 mil laut dari daratan untuk menangkap ikan yang kemudian digunakan memenuhi kebutuhan keluarganya.

Namun, perjalanan pada 6 Juli 2026 berubah menjadi petaka setelah perahu yang digunakannya mengalami kerusakan di tengah laut. Tanpa ponsel untuk meminta pertolongan, Esau akhirnya terbawa arus semakin jauh dari daratan.

Setelah berhasil diselamatkan, Esau menjalani proses administrasi di China sebelum akhirnya dipulangkan ke Indonesia.

KJRI Shanghai berkoordinasi dengan pihak Imigrasi China untuk memastikan seluruh proses kepulangannya berjalan hingga Esau dapat kembali ke Tanah Air.

Kepulangan Esau menjadi kabar yang membawa kelegaan bagi keluarganya. Setelah sempat dinyatakan hilang dan diduga telah meninggal dunia, ia akhirnya kembali dalam kondisi selamat setelah melewati 26 hari penuh perjuangan di tengah lautan.

Kisah tersebut menjadi pengalaman panjang bagi Esau dan keluarganya, sekaligus menjadi bukti perjuangan bertahan hidup dalam kondisi yang sangat terbatas di tengah luasnya Samudera Pasifik.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *