TIDORE – Memperingati Dies Natalis ke-25, Universitas Nuku akan memperluas jejaring akademik hingga Afrika Selatan melalui Dialog Internasional Afrika Selatan–Indonesia yang digelar secara daring pada 25 September 2026.
Rektor Universitas Nuku, Idris Sudin, S.P., M.Si., mengatakan, dialog internasional tersebut menjadi bagian penting dari rangkaian Dies Natalis ke-25. Kegiatan tidak hanya diposisikan sebagai seremoni tahunan, tetapi juga sebagai bentuk nyata kontribusi perguruan tinggi kepada masyarakat.
Menurut Idris, forum internasional ini menjadi salah satu langkah Universitas Nuku dalam mewujudkan konsep kampus berdampak, yakni menghadirkan kegiatan akademik yang memberikan manfaat langsung sekaligus membuka peluang kerja sama dengan berbagai pihak di tingkat internasional.
Sementara itu, Ketua Komite kegiatan, Abdul Kader Ali, menjelaskan Dialog Internasional Afrika Selatan–Indonesia merupakan hasil kolaborasi Universitas Nuku dengan Yayasan Negeri Rempah Jakarta melalui program International Forum Spaceroute yang bekerja sama dengan URSSAS Nuku.
“Dua kegiatan ini kami integrasikan dalam satu forum dialog sebagai bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-25 Universitas Nuku,” kata Abdul Kader.
Forum tersebut akan menghadirkan enam pembicara, masing-masing tiga dari Indonesia dan tiga dari Afrika Selatan. Para narasumber berasal dari kalangan akademisi, sejarawan, antropolog hingga unsur keluarga Tuan Guru.
Dari Indonesia, pembicara yang dijadwalkan hadir antara lain antropolog Universitas Khairun Yanwar Syukur, sejarawan Dr. Nani Jafar, serta Amin Faruq yang merupakan bagian dari keluarga Tuan Guru di Tidore.
Sementara dari Afrika Selatan, forum akan menghadirkan Shafiq Morton, Prof. Muhammad Harun, serta Syekh Muttakin Rakib dari unsur keluarga Tuan Guru di Afrika Selatan.
Abdul Kader mengungkapkan, persiapan kegiatan saat ini telah mencapai sekitar 80 persen. Panitia masih melakukan komunikasi dan konsolidasi dengan para pembicara dari kedua negara.
“Persiapannya sudah hampir 80 persen. Tinggal komunikasi dan konsolidasi dengan pembicara dari Afrika Selatan dan Indonesia. Semuanya sudah siap,” ujarnya.
Lebih jauh, Abdul Kader menyebut terdapat tiga target utama yang ingin dicapai melalui forum internasional tersebut.
Pertama, menghasilkan naskah akademik sebagai bahan pengusulan Tuan Guru sebagai Pahlawan Nasional.
Kedua, hasil dialog akan dikembangkan dalam kegiatan yang lebih besar berupa seminar internasional.
Ketiga, membangun jejaring kerja sama antara Universitas Nuku, Yayasan Negeri Rempah dan pihak-pihak di Afrika Selatan, khususnya dalam bidang penelitian kolaboratif, ekonomi, kebudayaan dan pendidikan.
“Harapannya ada penelitian kolaborasi, kerja sama dalam bidang ekonomi, kebudayaan dan pendidikan,” kata Abdul Kader.
Selain Dialog Internasional Afrika Selatan–Indonesia, rangkaian Dies Natalis ke-25 Universitas Nuku juga akan menghadirkan Dialog Nuku Kampus dengan tema “Universitas Nuku dan Masa Depan Inovasi Kepulauan.”
Rangkaian kegiatan tersebut diharapkan menjadi momentum bagi Universitas Nuku untuk memperkuat peran perguruan tinggi sebagai pusat pengetahuan, inovasi dan kolaborasi, sekaligus membuka ruang kerja sama yang lebih luas antara Tidore, Indonesia dan Afrika Selatan.














